Rabu, 03 Agustus 2016

Penulisan Resep, Resep Rasional, Golongan Obat, Jenis Obat


Tata cara penulisan resep

  1. Nama, alamat, dan nomor Surat Izin Praktek Dokter
  2. Tanggal penulisan resep
  3. Nama setiap obat/ komponen obat
  4. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan obat
  5. Tanda tangan/paraf dokter penulis resep
  6. Tanda seru dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi dosis maksimum

4 bagian resep

  1. Inscriptio
    Bahasa latin yang artinya alamat, isinya identitas dokter (Nama, No. Surat izin praktek, Alamat), tempat dan tanggal penulisan resep, serta tanda R/ sebelah kiri (pembuka resep atau invocatio).
  2. Praescriptio
    Bahasa latin yang artinya perintah atau pesanan atau merupakan inti resep, ialah bagian resep yang pokok, terdiri dari nama obat, BSO, dan dosis obat.
  3. Signatura
    Bahasa latin yang artinya tanda, ialah tanda yang harus ditulis di etiket obatnya, terdiri dari nama penderita dan petunjuk mengenai obatnya. (Biasanya cara pemakaiannya).
  4. Subscriptio
    Bahasa latin yang artinya tanda tangan dan paraf

     
  5. Resep yang benar/rasional
    Resep yang tepat, aman, dan rasional adalah resep yang memenuhi 6 (enam) tepat, sebagai berikut:

  1. Tepat Obat
  2. Tepat Dosis
  3. Tepat bentuk sediaan obat
  4. Tepat cara pemberian
  5. Tepat waktu pemberian
  6. Tepat penderita

Pengertian obat dan dosis dalam resep

Obat dibedakan menjadi 4 golongan menurut peraturan perundang-undangan:

  1. Golongan obat narkotika. Contoh: morfin, codein
  2. Golongan obat keras:
    1. Obat Keras Tertentu (OKT)                  contoh: diazepam
    2. Obat Keras                                              contoh: antibiotika
    3. Obat Keras Wajib Apotek (OWA)       contoh: oral kontrasepsi
  3. Golongan obat bebas terbatas                       contoh: antibiotika
  4. Golongan obat bebas                                       contoh: Vit. C tablet

Obat golongan narkotika harus dengan resep dokter, untuk morfin dan pethidin harus ditandatangani dokter, sedang untuk yang lain misalnya codein cukup paraf saja. Obat lain yang harus dengan resep dokter adalah golongan obat keras dan obat keras tertentu, sedang OWA, obat bebas terbatas, dan obat bebas bisa diperoleh tanpa resep dokter. OWA hanya dapat dibeli di apotek, sedangkan obat bebas lainnya, selain dapat dibeli di apotek, juga dapat dibeli di toko obat berijin.

Fungsi obat dibagi menjadi 4 yaitu

  1. Remedia cardinale adalah obat yang berfungsi untuk menyembuhkan penyebab terjadinya sakit. Obat ini disebut sebagai obat pokok/utama. Contoh: Antibiotik untuk menyembuhkan penyakit infeksi, INH untuk penyebab TBC, Chloroquin, untuk penyakit malaria.
  2. Remedia Adjuvantia adalah obat tambahan yang membantu untuk kesembuhan, biasanya termasuk obat-obat simtomatik. Misalnya antipiretik (parasetamol) menghilangkan gejala panas yang akan menganggu penderita, antalgin untuk pusing, lasix untuk oedem (penyakit jantung)
  3. Remedia Corrigensia (RC) adalah obat yang berfungsi untuk memperbaiki obat yang diberikan. Ada 4 macam:
    1. R.C. Actionis adalah memperbaiki kerja R. Cardinale
    2. R.C. Saporis adalah memberikan rasa manis pada R. Cardinale
    3. R.C. Odoris adalah memperbaiki bau R. Cardinale
    4. R.C. Coloris adalah memberikan warna pada R. Cardinale
  4. Remedia Constituen adalah obat yang berfungsi sebagai zat pengisi, pelarut (Vehiculum)

Penentuan Bentuk Sediaan Obat


  1. Faktor Penyakit

  1. Memperhatikan berat-ringannya penyakit.
    Bila keadaan penyakitnya berat/akut, perlu pengobatan/efek obat yang cepat, maka BSO pilihannya adalah injeksi. Bila keadaan penyakit ringan/kronis bisa memilih BSO per oral misalnya tablet, kapsul, sirup dan lain-lain
  2. Memperhatikan lokasi penyakit
    Untuk pengobatan lokal, BSO yang dipillih tergantung lokasi penyakitnya. Misalnya lokasi penyakit kulit, BSO dipilih salep bila lokasi penyakitnya di anus, BSO Suppositoria

  1. Faktor penderita

  1. Memperhatikan umur penderita:
    Untuk bayi, dipilih bentuk: tetes
  2. Memperhatikan keadaan penderita
    Penderita tidak sadar, muntah, habis operasi atau penderita tidak bisa minum obat, maka dipilih BSO, Supp atau injeksi (BSO yang bukan per oral).
  3. Memperhatikan keadaan sosial ekonomi
    Penderita yang kurang mampu sebaiknya bentuk puyer, jangan sirup yang harganya relatif lebih mahal.

  1. Faktor Obat

  1. Obat-obat rasa tidak enak (pahit), dipilih BSO kapsul atau emulsi
  2. Obat-obat yang sangat merangsang lambung/rusak oleh asam lambung atau enzim pencernaan, dipilih BSO yang bukan per oral ialah suppositoria/injeksi dan lainnya.
    Contoh:
    Penderita: Anak tidak sadar
    Penyakit: infeksi saluran nafas, akan diberikan
    Obat: amoksisilin
    Jawaban bentuk sediaan injeksi

  1. Bioavailabilitas
    Kinetik dan perbandingan kadar zat aktif yang mencapai peredaran darah terhadap jumlah obat yang diberikan.

    Lansia berikan sediaan Capsule karena dosis dapat disesuaikan dengan lansia

Farmasi: Definisi Dosis, Penggunaan obat

Definisi

  1. Dosis Lazim adalah dosis yang lazimnya dapat menyembuhkan dan tertera di farmakope.

  2. Dosis Terapi adalah dosis yang digunakan dalam terapi (dokter yang menentukan)

  3. Dosis Maksimal adalah Dosis/takaran maksimum/terbanyak yang dapat diberikan (berefek terapi) tanpa menimbulkan bahaya.

  4. Dosis rangkap adalah Apabila ada 2 (dua) atau lebih obat yang kerjanya analog dan diberikan bersamaan, maka dihitung sebagai dosis rangkapnya

  5. Dosis toksik adalah takaran obat dalam keadaan biasa yang dapat menyebabkan keracunan pada penderita.

  6. Dosis Letalis adalah takaran obat yang dalam keadaan biasa dapat menyebabkan kematian pada penderita, dosis letalis terdiri dari:
a. LD 50 : takaran yang menyebabkan kematian pada 50% hewan percobaan.
b. LD 100  : takaran yang menyebabkan kematian pada 100% hewan percobaan.

  1. Dosis Tunggal (Single Dose) adalah dosis obat yang diberikan hanya satu kali saja untuk menyembuhkan penyakit

  2. Dosis Awal (Initial dose/Loading Dose) adalah dosis yang diberikan pada awal terapi agar kadar obat mencapai kadar terapi minimal.

  3. Dosis pemeliharaan (Maintenance dose) adalah dosis obat yang diberikan untuk mempertahankan obat dalam jendela terapi.

Penggunaan obat Batuk pada
a. Usia <6tahun (menggunakan Mukolitik)
b. Usia >6tahun (menggunakan ekspektoran bila anak sudah dapat mengeluarkan dahaknya sendiri)

Pengunaan obat paracetamol untuk antipiretik pada anak bila suhu anak sudah mencapai >=38,5C
Penggunaan obat paracetamol sebagai analgetik hanya diperbolehkan pada ibu menyusui dan ibu hamil dan dosisnya harus dinaikkan lebih tinggi dibandingkan dosis antipiretik soalnya efek analgetik paracetamol lebih lemah dari antipiretik.

Bentuk Sediaan Obat
1. Padat
2. semi padat
3. Cair

1. Padat
a. Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi (Fl.Ed. IV).
Zat tambahan yang digunakan sebagai zat pengisi, zat pengembang, zat pengikat, zat pelicin, zat pembasah, atau zat lain yang cocok.
    Tipe tablet
    1. Compressed Tablet (CT)
        1.1 Sugar Coated Tablets (SCT)
        1.2 Film Coated Tablets (FCT)
        1.3 Enteric Coated Tablets (ECT)
        1.4 Multiple Compressed Tablets
              1.4.1 Layered Tablets (Tablet Berlapis)
Tablet ini dibuat dengan mencetak, mula-mula dicetak tablet lalu ditambah granul tablet di atas tablet yang sudah dicetak tadi, demikian diulang-ulang, sehingga menghasilkan tablet yang berlapis-lapis Contoh: Decolgen, Neozep, Flugan
            1.4.2 Press Coated Tablets
Mula-mula dicetak tablet kecil, lalu tablet tersebut dimasukkan ke mesin tablet khusus dan mencetak lapisan granulasi tablet sekeliling tablet yang dicetak mula-mula. Gambar V.6 dengan cara ini dapat dibuat tablet yang obat-obatnya tidak dapat dicamput, yaitu dengan memisahkan masing-masing obat dengan salut enterik. Contoh : Mexaform
         1.5 Prolonged-Action Tablets
Tablet yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga dapat melepaskan zat berkhasiat untuk pengobatan dalam periode tertentu. Biasanya untuk dosis berganda. Dosis pertama diatur seperti tablet biasa sedang dosis selanjutnya dibedakan sebagai berikut:
         1.5.1 Delayed Action Tablets
Tablet yang kerjanya ditangguhkan karena terlepasnya zat berkhasiat dicegah dalam selang waktu setelah pemberian atau sampai kondisi fisiologis tertentu.
         1.5.2 Repeat Action Tablets
Tablet yang kegiatannya berulang, yang secara periodik melepaskan dosis tertentu dari zat berkhasiat ke lambung dan usus
        1.5.3 Extended Release Tablets
Tablet yang kerjanya diperpanjang, yang secara kontinu melepaskan zat berkhasiat ke lambung dan usus
contoh: Avil Retard, Ronicol Timespan, Quibron T/SR
       1.6 Effervescent Tablets
Tablet ini diberi zat tambahan Na .Bicarbonat dan asam organik seperti asam sitrat atau asam tartat. cara pemakaiannya dengan melarutkan tablet ke dalam air (air gula) maka akan keluar gas karbondioksida. Effervescent tablets ini ada kaitannya dengan bentuk sediaan cair Netralisasi dan saturasi.
Contoh: Calcium D redoxon, Calcium Sandoz Forte, Supradyn
       1.7 Tableted Suppositories
merupakan suatu vagina tablet. dalam etiket harus dicantumkan cara pemakaiannya.
contoh: canesten vaginal tab, Flagystatin
Gunakan pada malam hari dan menggunakan aplicator jadi tambahkan di resep cum Aplicator
       1.8 Buccal& Sublingual tablets
buccal tablets adalah tablet yang digunakan dengan cara menyisipkan di sekitar selaput lendir pipi, akan melarut perlahan-lahan di mulut.
Contoh: Sandopart Buccal tab
Sublingual tablet
tablet sublingual adalah tablet yang digunakan dengan cara meletakkan dibawah lidah, melarut dengan cepat dan zat berkhasiatnya dengan mudah diserap
contoh: cedocard sublingual tab, isorbid tab
2.2. Molded Tablets (Tablets triturates)
Tablet Triturates biasanya mudah pecah dan segera larut. Tablet ini disiapkan bila dokter menghendaki dalam resepnya. Masalahnya kesulitan menemukan bahan pelicin yang larut sempurna dalam air.
2.2.1 Dispensing tablets
tablet yang menyediakan sejumlah obat yang tepat yang dapat mudah dicamputkan dalam serbuk atau cairan. Hal ini untuk menghindari keperluan menimbang obat dalam jumlah kecil.
Tablet diberikan kepada penderita setelah diracik. Bila diracik dengan serbuk nanti akan merupakan BSO serbuk. sedangkan bila diracik dengan zat cair akan merupakan BSO larutan. Tablet tipe semacam ini tidak pernah diberikan penderita dalam bentuk aslinya, kecuali dokter yang menghendaki.
Contoh: Catalin Solution Tab.
2.2.2 Hypodermic tablet
Tablet ini mudah larut dan digunakan sebagai larutan injeksi tetapi dengan cara inin diragukan kesterilannya
2.3 Lain-lain
2.3.1 Lozenges
Lozenges adalah tablet yang rasanya manis dan baunya enak dan melarut perlahan -lahan di mulut. hampir identik dengan buccal tablet.
Contoh: F.G. Troche, Kalmycin, Efisol
2.3.2 Pastilles
Pastilles adalah suatu lozenges yang berbeda zat tambahan yang digunakan. disini zat tambahan berupa glycerin dan gelatin yang kemudian ditambah gula. selain itu dapat diberikan zat warna
Contoh: Valda pastilles ada yang merah atau hijau
2.3.3 Tablet kunyah
tablet kunyah yaitu tablet yang cara pemakaiannya sebelum ditelan dikunyah lebih dahulu.
Contohnya: Erythrocin dulcet, Mylanta.
Fungsi dibuat tablet kunyah adalah
b. Kaplet adalah tablet yang bentuknya seperti kapsul agar mengurangi gesekan dengan lambung atau usus (sifat iritasinya)
Kapsul
Kapsul 1 grain=65 mg
Pengunaan codein farmakope II Codein HCl 1mg/th

BSO Cair

  1. Solutiones (Larutan)
    Adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut. Kecuali dinyatakan lain, sebagai pelarut digunakan air suling. Bentuk larutan dimaksudkan untuk membuat sediaan yang mengandung bahan yang larut didalam pembawanya.
    Keuntungan

  1. Konsentrasi obat dalam takaran tertentu dapat tepat karena larutan homogen.
  2. Setelah diminum obat tidak memerlukan waktu untuk melarut, sehingga dapat bekerja segera
  3. Kejernihan larutan dapat memberikan kesan yang menyenangkan

Kerugian

  1. Rasa obat dalam larutan lebih jelas
  2. Tidak praktis bila dibandingkan dengan bentuk sediaan lain, misalnya: pulveres, tablet, kapsul
  3. Kemungkinan terjadinya reaksi kimia dan bentuk larutan dimana air sebagai katalisator

  1. Sirupi (Sirop)
    Adalah sediaan cair berupa larutan yang mengandung saccharosa. (64-66%) +65%
  2. Elixira(Eliksir)
    Adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa dan bau yang sedap, mengandung selain obat juga zat tambahan seperti gula atau zat pemanis lainnya, zat warna, zat pewangi, zat pengawet serta digunakan sebagai obat dalam. Pelarut utamanya etanol bisa sampai 30% hati-hati pemberian pada lansia dan anak-anak. Pemanisnya gula hati-hati penderita DM
  3. Guttae (Obat tetes) sebagai obat dalam dan obat luar

Rumus menghitung dosis maksimum pada anak-anak
1. Rumus Young
(Umur/umur+12)xdosis dewasa
2. Rumus Dilling (Bila umur >=8 tahun)
(Umur/20)xdosis dewasa

Dextamine= Dexchlotpheniramine maleat
Betasone N=

Rumus DM1x anak= (umur/umur+12)xdosis maksimal 1x dewasa
Rumus DM sehari anak= (umur/umur+12)x dosis maksimal sehari dewasa
lalu dibandingkan dengan DL/DM kalau bisa Persentase dibawah atau sama dengan DM. jika lebih dari dosis maksimal gunakan dosis maksimal????

Sabtu, 02 Juli 2016

Penanganan perdarahan postpartum

Setelah plasenta dilahirkan kita lakukan masase fundus Uteri selama 15 detik -->
Jika masih berdarah maka lakukan eksplorasi apakah ada sisa plasenta atau stool sel yg ada. -->
lalu lakukan kompresi bimanual Interna selama 5 menit-->
Evaluasi lagi masih berdarah atau gak. Bila masih berdarah ajarkan keluarga untuk melakukan kompresi bimanual eksternal, sementara Anda memasang Infus RL dan Injeksi Ergometrin 0,2 mg IM
Bila penolong ada 3 tetap lakukan kompresi bimanual Interna sementara yang lain menyiapkan Infus dan ergometrin.

Kompresi bimanual Interna. Tangan kanan masuk mengepal trus mendorong forniks posterior kebelakang depan sedangkan tangan kiri mendorong fundus kedepan.

Kompresi bimanual eksternal. Tangan kanan menekan perut diatas simfisis ke atas. Sedangkan tangan kiri menekan kebawah.

Ketuban Pecah Dini

Protap di Puskesmas ditunggu dulu 6 jam. Baru dirujuk.
Protap pemberian Antibiotik Profilaksis Amoxicillin 2 gr IV
Juga diberikan Pematangan paru hingga hamil usia 36 Minggu dengan injeksi Dexamethasone IM 6mg/12 jam selama 2 hari.
Tes konfirmasi dengan menggunakan Nitrazin test atau tes Lakmus. Merah menjadi biru

Preeklampsia

Tentiran Dr. Ahnaf kepala Puskesmas Ngesrep
Diagnosis Pre-eklampsia Berat didapatkan 2 dari
1. Tekanan darah >160/110 mmHg
2. Proteinuria +2
3. Ada tanda2 impending eklampsia (pusing, penglihatan kabur, nyeri ulu hati, penurunan kesadaran)
Khusus tekanan darah lebih 160/110 sudah dapat didiagnosis preeklampsia

Pemberian MgSO4 dengan cara flushing
Pasang infus RL di loss klem. Trus suntik MGSO4 4gr selama 5 menit. Mengurangi rasa sakit, efek panas.

Catatan:
Kalau tidak ada tanda Tekanan darah tinggi maupun proteinuria. Kalau ada tanda impending eklampsia, lebih baik berikan MGSO4

Pemberian MGSO4:
1. Loading dose MGSO4 4gr IV bolus lambat 10-15 menit
2. Dilanjutkan maintenance dose 6gr dalam RL 500cc diberikan 28 tpm habis dalam 6 jam atau menggunakan syringe pump 1gr/jam

Yang perlu dibawa ketika merujuk pasien Pre-eklampsia
1. Pendamping Medis
2. MGSO4 2gr dalam spuit ketika eklampsia diberikan
3. Antidotum Ca Glukonas 0,1% 10 ml
4. Oksigen, RL

Rabu, 29 Juni 2016

Penataklaksanaan Eklampsia di Puskesmas

Eklampsia
Penatalaksanaan Eklampsia di Puskesmas

Eklampsia (ibu kejang klojotan)
1. Minta bantuan
2. Menjaga dari trauma (ABCD)
A: Airway (Jalan Nafas)
Bersihkan dan bebaskan jalan nafas (Suction/bersihkan lendir, Posisikan pasien ekstensi kepala, Lepaskan yang mengikat)
B: Breathing (Pernafasan)
Oksigen Masker 4-8 lpm
C: Circulation (Sirkulasi)
Pasang infus cairan Ringer Laktat atau Ringer Asetat
D: Drug (Obat)
MgSO4 40% 4gr bolus pelan (pelan-pelan selama 10 menit) dilarutkan dalam 10 ml Aquadest
MgSO4 40% drip 1 gr/jam (SP)
Obat antihipertensi
- Metildopa 500mg/8 jam
- Nifedipine 10 mg/8 jam

Setelah stabil
-Segera Rujuk
-Tetap Menjaga tanda vital